Breaking News
Loading...
Jumat, 20 Oktober 2017

Pengertian dan Sejarah Rasionalime

Sesungguhnya kebenaran itu merupakan hal yang unik. Berbagai abstraksi sering dipakai untuk menjawab pertanyaan, untuk menemukan kebenaran. Akal budi merupakan alat abstraksi untuk menemukan kebenaran yang lebih esensial. Dengan akal budinya, maka kemampuan manusia bersuara bisa menjadi kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Lewat bahasa dan komunikasi, manusia akan menemukan kebenaran yang berdasar pada akal budi dan rasio. Berikut akan dijelaskan beberapa landasan berpikir manusia yang mendukung lahirnya paham rasionalisme, yaitu sebagai berikut.
1.      Manusia berpikir menekankan aspek rohani.
2.      Berifat metafisis, yang artinya berpikir menekankan pada konsep diri/ide /rohani.
3.      Berpikir rohani yang realistis.
4.      Adanya harmoni antara dunia alam dan manusia, yang artinya selama dunia dapat menyesuaikan adanya manusia, begitu pula sebaliknya.
5.   Menusia merupakan bagian integral dari kehidupan alam semesta. Kesatuan organic. Manusia memperhatikan tentang kesatuan organic dalam kesatuan manusia yang utuh dari dunia, artinya suatu proses adalah kegiatan yang harus dilalui.

 Pengertian dan Sejarah Rasionalime
Rasionalisme secara etimologis berasal dari bahasa inggris rasionalism yang berakar dari bahasa latin yaitu ratio yang berarti akal. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia rasionalisme adalah teori (paham) yang menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan masalah mengenai kebenaran yang lepas dari jangkauan indra. Paham ini lebih mengutamakan kemampuan akal daripada emosi atau batin. Endraswara (2012:53) mengatakan rasionalisme merupakan paham atau aliran yang berdasarkan rasio, ide-ide yang masuk akal. Strategi pengembangan ilmu model rasionalisme adalah mengeksplorasi gagasan dengan kemampuan intelektual manusia. Dapat disimpulkan bahwa rasionalisme adalah paham yang bersumber dari akal pikiran (ide yang masuk akal) untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan.
Tokoh-tokoh rasionalisme di antaranya, Descartes, Leibniz, dan Spinoza. Benih rasionalisme sebenarnya sudah ditanam sejak zaman Yunani kuno. Salah satu tokohnya adalah Socrates. Beliau mengajukan sebuah proposisi yang terkenal bahwa sebelum manusia memahami dunia, seseorang harus memahami dirinya sendiri. Kunci untuk memahami dirinya tersebut adalah kekuatan rasio. Para pemikir rasionalisme berpandangan bahwa tugas dari para filsuf di antaranya adalah membuang pikiran irasional dan menggantinya dengan rasional. Pandangan ini misalnya disokong oleh Descartes yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati hanya didapat dengan menggunakan rasio. Sumbangan rasionalisme tampak nyata dalam membangun ilmu dan kebenaran yang didasarkan pada kekuatan pikiran atau rasio manusia.
Rasionalisme secara umum terciri dengan pendekatan deduktif, yaitu pendekatan umum ke khusus dimana penarikan kesimpulan dilakukan dengan merumuskan teori-teori dan fakta yang tersedia. Disinilah rasionalisme membentuk a priori, sebuah penilaian yang didasarkan pada teori dan logika daripada pengamatan secara experimental. Rasionalisme secara garis besar memiliki 3 dalil dasar, yaitu sebagai berikut.
1.      Asumsi tentang Intuisi dan Deduksi (The Intuition/Deduction Theses).
Intuisi adalah bagian dari pengetahuan a priori yang meyakini sesuatu berdasarkan bentuk rasionalnya. Sementara deduksi merupakan penarikan kesimpulan dari beberapa premis untuk menghasilkan kesimpulan yang logis.
2.      Asumsi Tentang Pengetahuan yang Telah Ada Dalam Diri (The Innate Knowledge Thesis)
Sejalan dengan asumsi sebelumnya, asumsi ini juga meyakini pengetahuan yang membentuk a priori. Namun, kedua asumsi ini berbeda pendapat tentang bagaimana pengetahuan itu didapatkan. Jika sebelumnya intuisi diyakini sebagai akar dari pengetahuan, maka asumsi ini membawa pengetahuan yang diwarikan (Innate Knowledge) sebagai sumber asumsinya. Menurut asumsi ini, pengetahuan merupakan bagian dari logika alami dari setiap manusia.
3.     Asumsi Tentang Konsep yang Telah Ada Dalam Diri (The Innate Concept Thesis). Sebagian filsuf menyamakan asumsi ini dengan asumsi kedua, namun sebagian lain membedakannya. Salah satu yang mempertahankan asumsi ini adalah Leibniz, yang menganalogikan konsep pemikiran seperti sebuah garis urat pada batu marmer. Pikiran sama halnya dengan sebongkah marmer yang dipahat menjadi patung. Sebelum memahat, para pengerajin tentu telah menyadari bentuk apa yang cocok untuk marmer itu dari garis uratnya. Meskipun mereka perlu mengukir, memoles, dan memunculkan garis-garisnya, tapi perlu disadari garis itu sudah ada pada marmer tersebut. Pola pikir tersebut sama dengan pemikiran bahwa kecendrungan berpikir, kebiasaan alami, potensi, dan bakat yang manusia miliki perlu disalurkan pada suatu aktifitas untuk dapat mengetahuinya. Masalah-masalah kefilsafatanlah yang menjadi dasar inspirasi atau bahkan dasar pemikiran bagi timbulnya pemikiran-pemikiran baru yang datang kemudian, sehingga konsep rasionalisme selalu menjadi dasar dalam pengembangan teknologi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer