Breaking News
Loading...
Kamis, 17 Januari 2013

Rupiah Perdanaku


Nama saya Ketut Agus Seputra, saya berasal dari Bali tepatnya dari Singaraja. Saya berasal dari Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Singaraja merupakan kota yang kecil, Singaraja terletak dibelahan bumi bali utara yang merupakan ibukota dari kabupaten Buleleng. Di kota ini saya terbiasa hidup apa adanya, tidak banyak tantangan. Tetapi saya sadar kalau terus-terusan saya berkembang dikota yang kecil ini saya tidak akan bisa menjadi orang besar. Saya mulai perlahan-lahan bertekad saya harus bisa hidup diluar jauh dari orang tua dan keluarga. Keputusan itu sangat sulit, karena sebelumnnya saya tidak pernah sedikitpun jauh dari mereka. Tapi laki-laki harus kuat, banyak orang bali merantau diluar dan mreka tidak kenapa-kenapa, malahan sukses besar. Mulai saat itu saya bertekad, setelah saya tamat kuliah di Undiksha, saya harus bisa melanjutkan di kampus yang lebih keren.   Atas araha dari dosen pembimbing saya di kampus, saya disarankan melanjutkan kuliah di d4ITB melalui program Seamolec. Saya mulai mencari tau apa itu Seamolec, apa saja syaratnya, dan lain-lainnya. Singkat cerita saya sudah melakukan pendaftaran dan saya diterima.
Saya berangkat kebandung bersama lima orang teman dari Bali juga. Saat-saat paling berat saat itu adalah saat-saat perpisahan dibandara bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Dengan berat hati sekali saya harus kuat jauh dari mereka. Itu sedikit cerita saya sebelum saya sampai di itb.
Sekarang saya akan sedikit berbagi cerita tentang rupiah. Rupiah pertama yang saya hasilkan. Dari kecil saya dididik untuk tidak malas. Kedua orang tua saya yang hanya seorang petani, secara tidak langsung saya harus bisa membantu mereka. Saya dilahirkan dari keluarga sederhana, tidak kaya tetapi juga tidak miskin. Kebutuhan saya selalu mereka penuhi, tapi saya tergolong orang yang sederhana, tidak banyak tuntutan hidup. Ketika itu kakak saya berjualan dirumah, saya masi duduk dibangku sekolah dasar. Mungkin apa yang terlintas dibenak saya waktu itu, saya ingin ikut berjulan barang-barang warung disekolah. Pada saat itu saya menjual pensil yang unik untuk dijual di sekolah. Pensilnya laku laris manis, dan saya senang sekali. Tetapi sat itu saya masi kecil, jadi belum begitu bisa bermakna hasil penjulan itu, belum bisa merasakan sulitnya mencari uang kebetulan saja waktu itu pensilnya laku.
Saya tahu bagaimana rasanya mencari uang tanpa dibantu oleh orang-orang terdekat pada saat mengikuti acara outbond di Seamolec. Pada acar tersebut kita calon mahasiswa diajarkan untuk menghilangkan rasa malu, rasa takut ditolak, harus percaya diri, dan ramah melalui game selling point. Game itu sederhana, kita disuruh jualan aja. Tetapi jualannya juga aneh, puplen 1500 kita harus jual mpe 50000 malahan lebih. Otak harus diputar dengan speed maximum agar dagangan kita laku. Singkat cerita, mahasiswa degan masing-masing kelompoknya mulai dilepaskan keluar kampus untuk menjajakan barang dagangannya, waktu 1 jam akhirnya tanpa disadari pulpen sudah laku 4 buah dengan penjualan 69000 untuk kelompok saya. Dengan susah payah, datang ke rumah-rumah penduduk menawarkan pulpen dan terjual Cuma 4 buah. Barulah saat itu saya tahu bagaimana rasanya berjualan keliling, malu, panas, capek, dan emosi harus dibuang jauh-jauh. Memang sangat sulit membuang rasa malu itu, tapi dengan susah payah saya harus buang rasa malu saya, saya harus berani menawarkan barang tersebut kependuduk, ya walaupun saya tidak berhasil menjualnya tapi saya sudah mencoba. Dari pengalaman tersebut, saya dapatkan beberapa makna yaitu, untuk memperoleh hasil yang bagus, kita harus percaya diri, sabar, semangat, jangan malu, dan ramah.
Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya, kakak-kakak saya dan orang-orang terdekat saya, yang sudah mengantarkan saya sampai disini. Terima kasih juga kepada Seamolec telah memberikan kesempata emas ini kepada saya.
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

1 komentar:

 
Toggle Footer